Namaku Raka.
Aku berusia empat belas tahun ketika bertemu dengan orang ekstrovert sejati yang pertama dalam hidupku. Dia begitu ekstrovert sampai-sampai aku merasa iri, bukan sekadar sedikit, pada kemampuannya itu, sementara aku sudah lama memilih diam.
Aku bukan anak yang punya banyak masalah. Setidaknya, itulah yang selalu dikatakan orang-orang. Aku seorang pelajar dengan nilai rata-rata. Bukan yang tertinggi, tetapi juga bukan yang terburuk. Yang terpenting, aku tidak pernah dipukul, tidak pernah membuat masalah, tidak pernah membuat konselor sekolah khawatir, dan tidak pernah menelepon orang tuaku dari sekolah.
Aku hanya tetap diam. Bagi kebanyakan orang, tetap diam itu oke.
Bagiku, tidak berbicara itu sulit, karena itu berarti aku berdiri di depan papan tulis tanpa jawaban. Berdiri di dekat papan tulis berarti aku sibuk memikirkan bagaimana menjawab pertanyaan, “apa kabar?” Kurasa aku akan menjawab “baik” atau “biasa saja”, atau tidak mengatakan apa-apa sama sekali dan membiarkan ketiadaan respons itu menjadi jawabanku.
Jika seseorang mulai bercerita, aku sudah melompat ke tahap berikutnya dan menimbang apakah aku ingin tertawa, menyampaikan pendapat, atau hanya duduk santai dan mendengarkan. Pada akhirnya, aku biasanya tetap diam.
Lama-kelamaan orang berhenti mencoba mengajakku berbicara. Dan sebenarnya aku tidak keberatan.
Hari-hariku sederhana. Bangun pagi. Pergi sekolah. Duduk di bangku dekat jendela. Mendengarkan guru. Pulang. Bermain gim atau menonton video sampai malam. Tidur. Besoknya, aku melakukan hal yang sama, tanpa benar-benar menunggu sesuatu yang istimewa.
Setiap kali guru menanyakan mimpi-mimpiku, aku menuliskan sesuatu yang terdengar setidaknya agak masuk akal. Programmer. Desainer. Insinyur. Apa saja untuk menghindari kotak jawaban kosong.
Sebab, aku memang benar-benar tidak tahu. Aku bahkan tidak merencanakan kegiatan akhir pekan depan, jadi tentu saja aku tidak tahu akan menjadi apa sepuluh tahun lagi! Kupikir beginilah hidup berjalan. Berjalan hanya karena waktu terus bergerak.
Sampai pada suatu hari di bulan Juli, seseorang duduk di kursi kosong di depanku. Namanya Emika. Aku masih ingat pertama kali dia berbicara denganku.
“Rak.”
Aku mengangkat kepala.
Dia memutar badan dari kursi depan.
“Kamu punya penghapus?”
Aku menunjuk kotak pensilku.
“Ambil aja.”
Dia mengambil penghapus putih kecil milikku.
“Makasih.”
Aku kembali melihat buku.
Beberapa detik kemudian dia berbicara lagi.
“Rak.”
Aku mengangkat kepala lagi.
“Pensil juga boleh pinjam?”
Aku memberikan pensil.
“Makasih.”
Aku kembali menunduk.
Sepuluh detik kemudian.
“Rak.”
Aku menatapnya.
Dia tersenyum.
“Penggaris?”
Aku menghela napas dan memberikan penggaris.
Dia tertawa kecil.
“Lengkap banget alat tulis kamu.”
Aku tidak menjawab.
Aku berharap percakapan itu selesai.
Ternyata tidak.
Besoknya dia kembali mengajakku berbicara.
Lalu besoknya lagi.
Dan besoknya lagi.
Emika tampaknya tidak membutuhkan alasan untuk mengobrol. Dia bisa menghampiriku dan bertanya tentang apa saja: kafetaria, awan berbentuk aneh, guru matematika, orang-orang acak, kucing-kucing di depan sekolah, bahkan alasan di balik warna merah yang selalu mendominasi kemasan permen rasa stroberi. Aku sering hanya menjawab dengan satu atau dua kata. Kadang hanya mengangguk. Anehnya, dia tidak pernah terlihat terganggu.
Suatu hari, ketika jam istirahat, dia datang ke mejaku sambil membawa dua roti.
“Ini.”
Dia meletakkan satu roti di mejaku.
“Apa?”
“Roti.”
“Aku tahu.”
“Ya terus kenapa nanya?”
Aku menatapnya.
Dia tertawa.
“Aku salah beli dua.”
Aku melihat plastik roti itu.
“Kok bisa?”
“Aku kira tadi belum ambil.”
Aku menatap kedua roti yang rasanya sama itu.
“Kamu beli dua-duanya pada waktu yang sama.”
“Iya.”
“Terus kamu lupa?”
“Iya.”
Aku tidak bisa memahami bagaimana seseorang bisa menjalani empat belas tahun hidupnya seperti itu.
Tapi aku mengambil rotinya.
“Makasih.”
Dia tersenyum lebar.
“Sama-sama.”
Kemudian dia duduk di kursi sebelahku.
Untuk beberapa menit kami makan dalam diam.
Aneh.
Biasanya aku merasa tidak nyaman ketika harus duduk bersama orang lain tanpa berbicara.
Tapi bersamanya, diam tidak terasa seperti kewajiban untuk segera diisi.
Dia hanya duduk sambil menggoyangkan kakinya.
Sesekali bersenandung pelan.
Sejak hari itu, entah bagaimana kami mulai sering pulang bersama. Bukan karena rumah kami berdekatan. Kami hanya berjalan sampai pertigaan depan sekolah sebelum mengambil arah berbeda.
Emika selalu punya cerita. Aku selalu menjadi pendengar. Kadang ceritanya sama sekali tidak penting.
Tentang bagaimana dia mencoba membuat telur dadar tetapi malah gosong. Tentang bagaimana dia ikut seleksi tim badminton kelas dan kalah telak. Tentang bagaimana dia pernah mencoba memelihara tanaman kecil tetapi lupa menyiramnya selama empat hari.
Yang aneh adalah Emika hampir selalu gagal dalam hal-hal yang dia coba.
Suatu hari sekolah mengadakan lomba lari kecil untuk acara class meeting.
Emika ikut.
Dia finis hampir terakhir.
Saat dia melewati garis finis, napasnya terengah-engah dan wajahnya merah.
Aku memberikan botol air kepadanya.
“Capek?”
“Banget.”
“Kamu kalah.”
“Aku tahu.”
Dia minum beberapa teguk.
Aku menunggu wajah kecewa.
Tapi dia malah tersenyum.
“Besok kita coba lagi.”
Aku mengernyit.
“Lombanya cuma hari ini.”
“Ya bukan larinya.”
“Terus?”
“Yang lain.”
Dia menunjuk lapangan.
“Kalau gagal hari ini, besok coba yang lain.”
Aku menganggapnya aneh.
Sangat aneh.
Beberapa hari kemudian dia mencoba bermain basket. Bola pertama yang dilemparnya bahkan tidak menyentuh ring.
“Besok kita coba lagi,” katanya.
Minggu berikutnya dia mencoba membuat kerajinan untuk tugas seni. Lemnya tumpah ke meja.
“Besok kita coba lagi.”
Dia pernah mengajakku membeli minuman baru di dekat sekolah. Rasanya sangat buruk. Dia tertawa sampai hampir tersedak.
“Besok kita coba lagi.”
Lama-kelamaan kalimat itu menjadi kebiasaannya. Dan tanpa kusadari, aku mulai mengingatnya.
Suatu sore, hujan turun sangat deras. Aku berdiri di depan sekolah sambil menunggu hujan reda. Emika muncul sambil membawa payung kecil berwarna kuning.
“Kamu nggak bawa payung?”
Aku menggeleng.
“Bareng aja.”
“Payungmu kecil.”
“Bisa.”
“Enggak.”
“Bisa.”
Lima menit kemudian kami berjalan di bawah satu payung. Ternyata aku benar. Payungnya terlalu kecil. Bahu kiriku basah. Bahu kanannya juga basah.
“Ini bukan ide bagus,” kataku.
“Lumayan.”
“Kita basah.”
“Tapi nggak basah banget.”
“Itu tetap basah.”
Dia tertawa.
Kami berjalan pelan karena genangan memenuhi trotoar. Tiba-tiba Emika melompat melewati genangan. Sepatunya tetap terkena air. Dia menatap sepatunya. Aku menahan tawa.
Dia menoleh.
“Kamu ketawa?”
“Enggak.”
“Kamu tadi ketawa.”
“Sedikit.”
Wajahnya langsung berubah seperti seseorang yang baru memenangkan sesuatu.
“Wah.”
“Apa?”
“Akhirnya.”
“Akhirnya apa?”
“Aku bikin Raka ketawa.”
Aku terdiam.
Dia berjalan mundur di depanku sambil tersenyum.
“Berarti aku hebat.”
“Karena bikin orang ketawa?”
“Karena bikin kamu ketawa.”
Aku tidak mengerti kenapa itu dianggap pencapaian. Tapi sejak hari itu, Emika semakin sering mencoba membuatku tertawa. Kadang berhasil. Lebih sering tidak.
Suatu kali dia memberi lelucon yang sangat buruk.
“Rak, kenapa buku matematika sedih?”
Aku menggeleng.
“Karena banyak masalah.”
Aku menatapnya datar.
Emika menunggu.
“Lucu kan?”
“Enggak.”
Dia memegang dadanya.
“Sakit.”
Aku hampir tersenyum.
Dia langsung menunjuk wajahku.
“Nah! Hampir!”
Aku memalingkan wajah.
“Enggak.”
“Kelihatan.”
“Perasaan kamu.”
Begitulah kami. Atau lebih tepatnya, begitulah dia. Dia terus datang. Aku hanya membiarkannya.
Beberapa bulan setelah kami menjadi teman, guru bahasa Indonesia kami memberikan sebuah tugas menulis singkat tentang masa depan kami. Temanya sederhana.
“Diriku Sepuluh Tahun Mendatang.”
Sebagian besar teman-temanku langsung menulis. Aku hanya menatap lembar kosong. Sepuluh tahun lagi aku berumur dua puluh empat. Aku mencoba membayangkan diriku. Tidak muncul apa-apa.
Emika yang duduk di depanku menoleh.
“Kamu belum nulis?”
“Belum.”
“Nggak tahu?”
Aku mengangguk.
Dia melihat kertas kosongku.
“Kamu nggak punya cita-cita?”
“Enggak tahu.”
“Yang kamu suka?”
Aku berpikir sebentar.
“Entahlah.”
Emika terdiam.
Untuk pertama kalinya dia tidak langsung memberikan jawaban.
Kemudian dia berkata,
“Ya udah.”
Aku menatapnya.
“Kalau belum tahu sekarang, cari aja.”
“Cari apa?”
“Hal yang kamu suka.”
Aku memutar pulpen di sela-sela jariku.
“Kalau nggak ketemu?”
Dia tersenyum.
“Besok kita coba lagi.”
Aku ingin mengatakan itu bukan jawaban. Entah bagaimana, aku akhirnya menuliskan, “Sepuluh tahun dari sekarang, aku sudah menemukan sesuatu yang bermakna dan sudah mempersiapkan diri untuk melakukannya.”
Itulah seluruh jawabanku. Guru memberi komentar bahwa tulisanku terlalu pendek. Emika mengatakan tulisanku bagus. Aku lebih percaya guru.
Semakin lama, kehadiran Emika mulai menjadi bagian dari rutinitasku. Aku mulai hafal jam dia datang. Aku tahu dia selalu membeli susu cokelat di kantin setiap Selasa. Aku tahu dia tidak suka tomat. Aku tahu dia akan menguap setelah pelajaran olahraga. Aku tahu kalau sedang gugup, dia akan memainkan ujung rambutnya.
Aku juga tahu dia sering berdiri di dekat gerbang sepulang sekolah. Menungguku.
Dulu aku tidak pernah memikirkan kenapa. Aku menganggapnya biasa. Mungkin karena kami memang sering pulang bersama.
Kadang teman-teman kelas menggoda kami.
“Raka, ditungguin tuh.”
Aku akan pura-pura tidak mendengar.
Emika biasanya hanya tertawa.
Pernah seorang teman bertanya,
“Kalian pacaran?”
Aku langsung menjawab,
“Enggak.”
Terlalu cepat.
Emika yang berada di sampingku hanya diam beberapa detik sebelum kemudian tersenyum.
“Iya, cuma teman.”
Aku tidak memikirkan ekspresinya saat itu. Aku tidak memikirkan nada suaranya. Aku hanya merasa lega percakapan itu selesai.
Ada perasaan aneh yang tak kunjung hilang setiap kali aku mengingat hal itu. Bukan karena aku berharap jawabanku dulu berbeda.
Aku memang tidak menyukainya seperti itu.
Namun aku berharap dulu aku sedikit lebih memperhatikan wajahnya.
Pada akhir semester, sekolah mengadakan bazar kelas. Emika memutuskan kelas kami harus menjual pancake mini. Tidak ada alasan khusus. Dia hanya mengatakan pancake mudah dibuat. Ternyata tidak. Adonannya terlalu cair. Beberapa pancake gosong. Sebagian bentuknya bahkan tidak bulat. Emika berdiri di depan meja dengan celemek penuh tepung.
“Kita gagal.”
“Kamu baru sadar?”
Dia menatap pancake hitam di wajan.
Kemudian tertawa.
“Besok kita coba lagi.”
“Bazarnya selesai hari ini.”
“Ya nanti bikin sendiri.”
“Aku nggak mau.”
“Kamu harus.”
“Kenapa?”
“Karena kamu bagian dari kegagalan ini.”
Aku menatap pancake.
“Aku cuma bantu.”
“Berarti terlibat.”
Aku menggeleng.
Pada akhirnya kami menjual hampir semuanya. Mungkin karena teman-teman kasihan.
Setelah bazar selesai, kami duduk di tangga belakang sekolah. Emika memberikan pancake terakhir kepadaku. Bentuknya jelek. Aku menggigitnya.
“Gimana?”
“Lumayan.”
“Bener?”
“Agak gosong.”
Dia tertawa.
Untuk beberapa saat kami hanya duduk melihat langit sore. Kemudian Emika bertanya,
“Rak.”
“Hm?”
“Kalau suatu hari aku nggak masuk sekolah, kamu bakal nyariin aku nggak?”
Aku menatapnya.
“Kenapa nanya begitu?”
“Iseng.”
“Kalau sakit ya paling aku chat.”
“Kalau nggak bales?”
Aku berpikir sebentar.
“Ya tunggu.”
“Terus?”
“Besok tanya lagi.”
Emika tersenyum kecil.
“Bagus.”
“Apa yang bagus?”
“Udah mulai belajar.”
“Belajar apa?”
Dia berdiri.
“Rahasia.”
Aku tidak bertanya lagi. Seandainya waktu bisa diulang, mungkin aku akan bertanya. Tapi waktu tidak pernah memberi kesempatan seperti itu.
Hari terakhir aku melihat Emika adalah hari Kamis. Tidak ada sesuatu yang istimewa. Tidak ada musik. Tidak ada langit yang berbeda. Tidak ada firasat. Itu hanya hari sekolah biasa.
Saat pulang, Emika berdiri di gerbang seperti biasanya.
“Hari ini lewat toko buku yuk.”
“Ngapain?”
“Mau beli buku.”
“Aku mau pulang.”
“Lima belas menit.”
Aku menghela napas.
“Besok aja.”
Dia memasang wajah kecewa berlebihan.
“Sekarang.”
“Besok.”
“Kenapa besok?”
“Capek.”
Emika terdiam sebentar.
Lalu tersenyum.
“Ya udah.”
Kami berjalan menuju pertigaan.
Sebelum berpisah, dia melambaikan tangan.
“Besok jangan lupa.”
“Apa?”
“Toko buku.”
Aku mengangguk.
“Kalau nggak hujan.”
“Kalau hujan?”
“Besoknya lagi.”
Dia tertawa.
“Nah, pinter.”
Kemudian dia mengatakan kalimat yang entah sudah berapa ratus kali kudengar.
“Besok kita coba lagi.”
Aku pulang tanpa menoleh. Itulah terakhir kali aku melihatnya.
Besoknya, kursi Emika kosong. Aku tidak terlalu memikirkannya. Mungkin dia sakit. Jam pertama berlalu. Jam kedua. Saat istirahat, aku membuka ponsel. Aku mengetik pesan.
“Kamu nggak masuk?”
Pesanku belum terbaca. Aku memasukkan ponsel kembali ke saku. Pada jam keempat, wali kelas masuk. Wajahnya berbeda. Dia berdiri di depan kelas cukup lama. Semua orang perlahan diam.
“Ada kabar yang harus Ibu sampaikan.”
Aku tidak tahu kenapa tanganku tiba-tiba dingin.
“Emika mengalami kecelakaan tadi malam.”
Suasana kelas berubah. Aku masih menatap kursi kosong di depanku. Wali kelas menarik napas.
“Dan pagi ini… Emika dinyatakan meninggal dunia.”
Aku mendengar beberapa teman menarik napas. Ada yang langsung menangis. Ada yang menutup mulut. Aku tidak melakukan apa-apa. Aku hanya melihat kursinya. Penghapus putih milikku masih ada di dalam tempat pensilnya. Dia belum mengembalikannya. Entah kenapa, itu hal pertama yang kupikirkan. Penghapus bodoh. Aku bahkan tidak ingat kapan terakhir dia meminjamnya.
Aku menunggu seseorang tertawa dan mengatakan semua ini salah. Tidak ada. Aku menunggu ponselku bergetar. Tidak ada. Aku membuka chat. Pesanku masih belum dibaca.
“Kamu nggak masuk?”
Aku mengetik lagi.
“Kita jadi ke toko buku nggak?”
Aku menatap kalimat itu.
Lalu menghapusnya.
Aku datang ke rumah Emika bersama teman-teman kelas. Aku tidak suka mengingat hari itu. Rumah yang biasanya mungkin ramai itu kini dipenuhi orang-orang yang berbicara pelan. Aku melihat ibunya. Mata wanita itu merah. Ketika melihatku, dia bertanya,
“Kamu Raka?”
Aku mengangguk.
Dia tersenyum kecil meskipun terlihat kesulitan.
“Emika sering cerita tentang kamu.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Jadi seperti biasanya, aku diam. Tapi kali ini diam terasa menyakitkan. Sebelum pulang, ibunya memberiku sebuah kantong kecil.
“Ini ada beberapa barang sekolahnya. Katanya ada yang punya kamu.”
Di dalamnya ada penghapus putihku. Sebuah pulpen. Dan sebuah buku catatan kecil dengan sampul biru.
“Itu bukan punya saya,” kataku.
Ibunya melihat buku itu.
“Oh.”
Dia terdiam.
Kemudian menyerahkannya kepadaku.
“Kalau begitu bawa saja. Mungkin dia memang mau kasih ke kamu.”
Aku ingin menolak. Tapi tanganku sudah menerimanya.
Aku tidak membuka buku itu selama hampir seminggu. Kubiarkan di meja.
Sekolah terasa berbeda. Kursi di depanku akhirnya dipindahkan. Aku tidak tahu siapa yang meminta. Aku bersyukur.
Aku mulai pulang sendirian lagi. Jalan menuju pertigaan yang dulu terasa biasa saja kini terasa jauh lebih panjang. Tidak ada orang yang membicarakan kegagalan mereka membuat telur. Tidak ada yang mengomentari awan. Tidak ada yang mengajakku mencoba minuman aneh.
Aku pikir aku akan kembali seperti dulu. Ternyata tidak. Dulu kesunyian tidak menggangguku. Sekarang kesunyian terasa memiliki bentuk. Seperti ada ruang kosong di sebelahku yang seharusnya ditempati seseorang.
Malam itu aku akhirnya membuka buku catatan Emika. Sebagian besar isinya biasa. Catatan pelajaran. Daftar tugas. Coretan gambar. Resep pancake yang ternyata dia salin dari internet.
Di beberapa halaman ada tulisan seperti:
“Besok latihan badminton lagi.”
“Jangan lupa beli susu.”
“Raka hari ini ngomong 7 kalimat. Rekor.”
Aku berhenti.
Aku membaca ulang.
“Raka hari ini ngomong 7 kalimat. Rekor.”
Halaman berikutnya:
“Berhasil bikin Raka ketawa lagi.”
Halaman setelahnya:
“Dia bilang pancake-ku lumayan. Walaupun gosong.”
Aku mulai merasa tidak nyaman. Bukan karena tulisannya buruk. Justru karena semuanya terasa terlalu kecil. Hal-hal yang bahkan tidak kuingat ternyata ditulis olehnya.
Aku terus membaca. Lalu aku menemukan sebuah halaman yang tidak seperti lainnya. Tidak ada tanggal. Hanya beberapa baris.
“Aku suka Raka.”
Aku berhenti.
Membaca sekali lagi.
“Aku suka Raka.
Tapi mungkin lebih baik nggak bilang dulu.
Dia masih sibuk belajar nyaman sama dirinya sendiri.
Aku nggak mau bikin dia merasa harus jawab sesuatu.
Kalau suatu hari dia bisa punya banyak teman, punya sesuatu yang dia suka, dan bisa tersenyum tanpa aku, mungkin itu sudah cukup.”
Tanganku berhenti di atas halaman. Aku tidak tahu apa yang kurasakan.
Aku tidak tiba-tiba menyadari bahwa aku mencintainya. Tidak. Bahkan ketika membaca kalimat itu, perasaanku kepada Emika tidak berubah menjadi cinta seperti di film. Dia tetap Emika.
Temanku. Orang yang terlalu berisik. Orang yang suka gagal. Orang yang membuat lelucon buruk.
Tapi dadaku terasa sesak. Karena untuk pertama kalinya aku mengerti sesuatu yang seharusnya mungkin kusadari sejak lama. Dia menungguku di gerbang bukan hanya karena kebetulan. Dia mengingat setiap kali aku tertawa. Dia menghitung berapa banyak aku berbicara. Dia terus mengajakku melakukan sesuatu bukan karena dia tidak punya orang lain. Dia menyukaiku. Dan aku tidak pernah tahu.
Aku membalik halaman. Di halaman terakhir ada tulisan lebih pendek.
“Kalau Raka suatu hari baca ini, berarti aku ceroboh dan ninggalin bukunya di mana-mana.
Malu banget.
Tapi kalau memang kebaca…
nggak perlu merasa harus suka balik.
Aku cuma senang pernah kenal kamu.
Dulu kamu kelihatan kayak orang yang nggak menunggu apa-apa.
Sekarang setidaknya kamu mau nunggu besok.
Jadi jangan balik lagi jadi Raka yang dulu.
Kalau hari ini masih susah,
besok kita coba lagi.”
Aku menutup buku. Untuk pertama kalinya sejak kabar kematian Emika, aku menangis. Bukan tangisan keras. Aku bahkan tidak tahu kapan air mataku mulai jatuh. Aku hanya duduk di lantai kamar sambil memegang buku biru itu.
Ada terlalu banyak hal yang ingin kukatakan.
Terima kasih.
Maaf.
Kenapa kamu nggak pernah bilang?
Kenapa kamu selalu datang?
Kenapa kamu bisa menganggap tujuh kalimat dariku sebagai sesuatu yang penting?
Kenapa harus pergi sekarang?
Tapi semua pertanyaan itu datang terlambat. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku benar-benar membenci kata “besok”. Karena besok tidak selalu datang untuk semua orang.
Beberapa minggu setelahnya aku berhenti mencoba banyak hal. Aku berhenti ikut kegiatan kelas. Aku berhenti pergi ke kantin saat istirahat. Aku kembali duduk dekat jendela.
Suatu hari guru Bahasa Indonesia yang dulu memberikan tugas tentang masa depan memanggilku.
“Raka.”
Aku berdiri.
“Kamu baik-baik saja?”
Biasanya aku akan menjawab “iya”.
Kali ini aku terdiam lama.
Kemudian berkata,
“Enggak tahu, Bu.”
Guru itu tidak memaksaku.
Dia hanya mengangguk.
“Tidak apa-apa kalau belum tahu.”
Kalimat itu mengingatkanku pada seseorang.
Sepulang sekolah aku berdiri di depan gerbang. Tempat Emika biasanya menunggu. Aku melihat pertigaan. Untuk sebentar, aku mempertimbangkan pulang langsung. Lalu aku teringat hari terakhir kita bertemu. Toko buku. Aku belum pernah pergi ke sana bersamanya. Aku berjalan ke arah toko itu. Sendirian.
Toko itu kecil. Aku masuk tanpa tujuan. Aku berjalan melewati rak novel, komik, buku pelajaran. Kemudian mataku berhenti pada sebuah buku gambar. Aku tidak tahu kenapa. Aku mengambilnya. Di sampingnya ada pensil. Aku membeli keduanya.
Malam itu aku mencoba menggambar. Hasilnya jelek. Sangat jelek. Kalau Emika melihatnya, mungkin dia akan tertawa. Aku hampir merobek halaman itu. Namun tanganku berhenti. Aku teringat suaranya.
“Besok kita coba lagi.”
Aku menutup buku gambar. Besoknya aku menggambar lagi. Masih jelek. Besoknya lagi. Sedikit lebih baik. Aku mulai menyukai menggambar. Bukan karena aku tiba-tiba menemukan bakat. Aku hanya merasa tenang setelah melakukannya.
Beberapa bulan kemudian, aku mendaftar ke kegiatan seni sepulang sekolah. Pada minggu pertama, aku sempat mempertimbangkan untuk berhenti karena tidak mengenal siapa pun. Tapi aku tetap datang lagi. Besoknya. Lalu besoknya lagi. Aku mulai berbicara dengan beberapa orang. Tidak banyak. Tapi lebih banyak daripada sebelumnya.
Suatu hari seorang teman baru bertanya,
“Kenapa kamu suka gambar?”
Aku hampir menjawab tidak tahu.
Kemudian aku memikirkan Emika.
“Aku mulai karena seseorang.”
“Siapa?”
Aku tersenyum kecil.
“Teman.”
Itu cukup.
Dua tahun berlalu. Aku masih menyimpan buku biru milik Emika. Penghapus putih itu juga masih ada. Sudah kotor dan hampir tidak bisa digunakan. Aku tidak pernah membuangnya.
Kadang-kadang aku membaca catatan Emika lagi. Tidak sesering dulu. Aku menyadari bahwa melanjutkan hidup berarti tidak melupakan Emika. Orang-orang yang kita sayangi tetap tinggal di dalam hati kita. Dalam kata-kata. Dalam cara kita memandang sesuatu.
Aku masih sulit berkomunikasi. Aku masih sering terlalu lama memikirkan jawaban. Aku masih tidak suka berada di tengah keramaian. Tapi sekarang aku punya beberapa teman. Aku punya hal yang kusukai. Aku mulai berpikir ingin belajar desain atau ilustrasi ketika dewasa nanti. Belum pasti. Tapi setidaknya sekarang ada sesuatu yang ingin kukejar.
Pada suatu sore, aku kembali ke tangga belakang sekolah. Tempat aku dan Emika pernah makan pancake gosong. Sekolah hampir kosong. Langit berwarna jingga. Aku duduk sambil membawa buku gambar.
Hari itu, aku menggambar seorang gadis dengan payung kuning kecil. Gambarnya tidak terlalu bagus. Aku tidak ingat seluruh detail wajahnya lagi. Hal itu sempat membuatku takut. Aku takut suatu hari nanti aku akan lupa suaranya. Lupa cara dia tertawa. Lupa bagaimana dia memanggil namaku.
Tapi kemudian aku sadar sesuatu. Aku mungkin akan lupa beberapa detail. Dan itu tidak apa-apa. Karena ada satu hal yang mungkin tidak akan pernah kulupakan.
Aku melihat gambar itu.
“Mika.”
Tidak ada jawaban.
Aku tersenyum kecil.
“Aku akhirnya nemu sesuatu.”
Angin sore melewati halaman buku.
“Aku nggak tahu bakal sampai mana.”
Aku menutup buku gambar.
“Tapi lumayan.”
Aku berdiri.
Untuk sesaat, aku membayangkan dia duduk di tangga itu. Mungkin dia akan mengkritik gambarku. Mungkin dia akan mengatakan hidungnya terlalu besar. Mungkin dia akan tertawa. Aku tidak tahu.
Yang kutahu, dulu aku selalu berpikir Emika datang ke dalam hidupku untuk mengajariku cara bahagia. Ternyata bukan itu. Dia hanya menunjukkan bahwa hidup tidak harus selalu punya jawaban. Tidak harus selalu berhasil. Tidak harus tahu tujuan akhirnya.
Kadang kita hanya perlu mencoba sesuatu. Kalau gagal, kita bisa mencoba lagi. Kalau kehilangan seseorang, kita boleh berhenti sebentar. Boleh menangis. Boleh merasa marah. Tapi selama kita semua masih di sini, perjalanan belum selesai.
Aku tidak pernah mencintai Emika seperti dia mencintaiku. Dan hingga sekarang, aku tidak ingin berbohong pada diriku sendiri tentang itu. Tapi aku menyayanginya. Lebih dari yang kusadari saat dia masih ada.
Dia adalah temanku. Salah satu orang paling penting yang pernah datang dalam hidupku. Dan mungkin itulah hal yang paling kusesali. Bukan karena aku tidak membalas cintanya. Melainkan karena aku tidak pernah sempat mengatakan betapa berarti kehadirannya bagiku.
Aku memasukkan buku gambar ke dalam tas. Lalu berjalan menuju gerbang sekolah. Langkahku berhenti sebentar ketika melewati tempat dia dulu selalu menungguku.
Dulu, aku tidak pernah menunggu apa pun dari hari esok. Sekarang aku memiliki banyak hal yang belum selesai. Banyak gambar yang belum kubuat. Banyak tempat yang belum kudatangi. Banyak orang yang belum kukenal. Dan masih banyak hari buruk yang mungkin menungguku.
Aku tahu aku akan gagal lagi. Mungkin berkali-kali. Tapi sekarang aku tahu apa yang harus kulakukan ketika itu terjadi.
Aku menatap jalan di depanku. Kemudian, pelan-pelan, aku mengucapkan kalimat yang dulu selalu kukira hanyalah kebiasaan seorang gadis yang terlalu optimis.
“Besok kita coba lagi.”
Aku berjalan pulang. Sendirian. Tapi untuk pertama kalinya, kesendirian itu tidak terasa kosong. Karena sekarang aku tidak berjalan tanpa arah. Aku tidak tahu pasti ke mana hidup membawaku, tetapi untuk saat ini tidak apa-apa jika belum ada jawabannya.
Jika aku tidak sampai pada jawaban hari ini…
Aku masih punya besok.
Biografi Penulis
Nama saya Izfan. Saya adalah seorang pelajar yang memiliki ketertarikan pada bidang desain, teknologi, dan penulisan cerita. Selain mengerjakan berbagai proyek desain, saya juga suka mengembangkan ide cerita yang berfokus pada kehidupan, hubungan antarmanusia, dan emosi.
Cerpen ini menjadi salah satu cara saya untuk mencoba menuangkan ide dan perasaan ke dalam sebuah cerita. Saya berharap cerita yang saya tulis tidak hanya menghibur, tetapi juga dapat meninggalkan kesan dan makna bagi pembaca.
Leave a Comment