22 October 2026

Santri SMK-IT As-Syifa Diajak Isi Lembaran Sejarah Berikutnya

Thu, 22 October 2026 Read 1x

SUBANG – Peringatan Hari Santri Nasional digelar di Kampus 4 Assyifa Boarding School Jalan cagak 2, Kamis (22/10/2026). Upacara diikuti para santri SMK-IT Assyifa Boarding School Jalancagak 2, dengan Ustad Heri Sugianto, M.Pd, bertindak sebagai pembina upacara.

Sejak pagi, para peserta sudah memadati lapangan dengan barisan rapi. Seluruh rangkaian upacara berlangsung tertib dan khidmat, mulai dari pengibaran bendera merah putih, pembacaan teks-teks upacara, hingga penyampaian amanat oleh pembina. Santri SMK-IT Assyifa Boarding School Jalancagak 2 turut ambil bagian, baik sebagai peserta maupun petugas upacara.

Suasana lapangan terlihat khidmat. Para santri mengenakan seragam dan atribut yang rapi, berdiri dalam barisan yang tertata sesuai kelas masing-masing. Kegiatan ini menjadi salah satu agenda rutin sekolah untuk memperingati Hari Santri Nasional setiap 22 Oktober.

Dalam amanatnya, Ustad Heri mengajak peserta melihat kembali makna tanggal 22 Oktober. Ia menyebut para santri terdahulu berjuang tanpa dibekali fasilitas yang memadai, tetapi tetap berhasil mencatat sejarah bagi bangsa.

“Para santri terdahulu sudah mencatat tinta emas. Tinggal kita, apakah kita bisa mengisi lembaran-lembaran selanjutnya,” kata pembina di hadapan peserta upacara.

Menurut pembina, setiap momentum perubahan selalu membawa tantangan. Untuk menggambarkannya, ia menggunakan perumpamaan sebuah penggaris. Jika tantangan diibaratkan penggaris sepanjang 30 sentimeter, bagaimana cara membuatnya terasa lebih pendek?

Ia menyebut ada cara yang kerap dipilih, yakni mematahkan penggaris, menutup sebagian angkanya, atau menghapusnya. Namun cara itu dinilai tidak menyelesaikan masalah. Menurut pembina, jalan yang lebih tepat adalah menghadirkan penggaris yang lebih panjang. Artinya, tantangan tidak perlu dihindari, melainkan dihadapi dengan menambah ilmu, kemampuan, dan kapasitas diri, sehingga persoalan yang tadinya terasa besar menjadi tampak kecil.

Pembina juga mengaitkan pesannya dengan pandangan psikolog Abraham Maslow tentang kebutuhan manusia akan validasi atau pengakuan. Ia mendorong para santri untuk membuktikan diri lewat prestasi dan karya nyata, bukan sekadar menunggu pengakuan dari orang lain.

Para santri SMK-IT Assyifa Boarding School Jalancagak 2 terlihat menyimak amanat dengan saksama hingga upacara berakhir. Melalui kegiatan ini, pihak sekolah berharap semangat juang para santri terdahulu dapat menjadi teladan bagi generasi sekarang, sehingga mereka terpacu untuk terus belajar, berkarya, dan berprestasi demi agama, bangsa, dan negara.

Penulis : Zaki Ramdani, S.Pd

This article have

0 Comment

Leave a Comment

 

fourteen − three =