
LEMBANG, BANDUNG BARAT – Sejuknya Lembang yang menusuk tulang di pagi hari tidak sedikit pun menyurutkan semangat para siswa Generasi ke-2 SMK-IT As Syifa Boarding School. Di bawah naungan pohon-pohon pinus yang menjulang tinggi di kawasan Wisata Grafika Cikole, sebuah perjalanan penting bagi masa depan organisasi sekolah dimulai. Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS) bagi pengurus OSIS SMK-IT As-Syifa Generasi ke-2 resmi digelar dengan atmosfer yang penuh energi, Berlangsung seru dan Humanis.
Kegiatan LDKS kali ini dirancang bukan sekadar sebagai prasyarat organisasi, melainkan sebagai wadah bonding atau penguatan ikatan emosional antar pengurus. Sebagai generasi kedua, tantangan yang dihadapi tentu tidak ringan. Mereka diharapkan mampu menjadi pondasi yang kokoh bagi tradisi organisasi di SMK-IT As Syifa. Oleh karena itu, pendekatan yang diambil dalam LDKS tahun ini lebih menekankan pada aspek humanis, kolaboratif, dan rekreatif.

Tadinya “Cemong” Bedak, Sampai Jadi Strategi Tim
Kegiatan dibuka dengan serangkaian permainan pemanasan yang langsung memacu adrenalin anggota OSIS SMK-IT As-Syifa dan konsentrasi. Dimulai dengan permainan sederhana namun menjebak seperti “Tepuk Pagi, Siang, dan Malam,” para peserta diajak untuk melatih ketajaman pendengaran dan kecepatan reaksi. Suasana semakin pecah saat instruktur memulai permainan simulasi kelompok yang dinamai “Lampu Merah,” “Ojek,” dan “Mini Bus.”
Dalam permainan ini, para siswa harus bergerak cepat membentuk kelompok dengan jumlah anggota sesuai instruksi yang diberikan secara mendadak. Aturannya sederhana namun menantang: siapa pun yang gagal mendapatkan pasangan atau jumlah anggotanya tidak tepat, harus rela menerima hukuman berupa olesan bedak bayi di wajah.
Gelak tawa pecah di setiap sudut lapangan ketika satu per satu wajah para calon pemimpin ini mulai memutih terkena olesan bedak ditengah sejuknya lembang, mereka harus menahan malu. Ada yang hanya terkena sedikit di pipi, namun tidak sedikit pula yang wajahnya tertutup rata oleh bedak hingga menyerupai topeng putih akibat berkali-kali gagal dalam tantangan. Alih-alih merasa malu, para siswa justru tampil semakin kompetitif dan antusias. “Cemong” bedak tersebut justru menjadi simbol keakraban yang meruntuhkan sekat-sekat kecanggungan di antara mereka ditambah sejuknya lembang membuat suasana semakin tenang.

Setelah sesi pemanasan yang menguras tawa, intensitas permainan meningkat pada tantangan Hula Hoop. Ini bukan sekadar permainan fisik, melainkan ujian bagi kepemimpinan dan manajemen tim bagi para anggota OSIS SMK-IT As-Syifa. Setiap kelompok diminta untuk memindahkan atau masuk ke dalam lingkaran hula hoop secara bersama-sama dalam waktu sesingkat mungkin.
Di sini, setiap anggota tim menyadari bahwa ego pribadi harus dikesampingkan. Koordinasi, strategi penempatan posisi, serta kemampuan mendengarkan instruksi dari ketua kelompok menjadi kunci utama. Mereka belajar bahwa dalam sebuah organisasi seperti OSIS, kecepatan individu tidak akan berarti apa-apa tanpa keselarasan gerak bersama tim. Kelompok yang paling kompak dan mampu berkomunikasi dengan efektif akhirnya keluar sebagai pemenang, disambut dengan sorak sorai kemenangan yang menggema di hutan pinus.

Kepemimpinan juga berbicara tentang keberanian mengambil risiko. Untuk itu, para siswa disuguhkan dengan berbagai wahana outbound yang memicu adrenalin. Grafika Cikole yang memiliki kontur alam berbukit menyediakan fasilitas yang sempurna untuk menguji nyali.
Satu per satu siswa mencoba wahana Flying Fox, meluncur cepat di antara pepohonan. Tak hanya itu, mereka juga menyeberangi jembatan gantung yang bergoyang serta melakukan teknik rappelling atau turun tebing. Rasa takut yang awalnya terlihat di raut wajah seketika berubah menjadi rasa bangga dan puas setelah mereka berhasil mencapai garis finis. Pengalaman ini mengajarkan mereka untuk percaya pada kemampuan diri sendiri dan peralatan (sistem) yang mendukung mereka.
Setelah rangkaian aktivitas fisik para anggota OSIS SMK-IT As Syifa akhirnya bisa sedikit bernafas lega, sesi rehat dan makan bersama menjadi momen yang paling dinantikan. Pemandangan sumringah terlihat jelas di meja makan. Tidak ada lagi jarak antara senior, junior, maupun rekan sebaya. Semuanya melebur dalam kebersamaan sembari menyantap hidangan hangat di tengah sejuknya udara Lembang.

Salah satu peserta, Keanu Dhiya Al Dhafy, membagikan pengalamannya yang berkesan. Bagi Keanu, LDKS kali ini adalah sebuah kejutan yang menyenangkan.
“Ini adalah pengalaman pertama saya mengikuti LDKS, dan ternyata sangat menyenangkan. Jujur, awalnya saya sempat merasa khawatir karena membayangkan LDKS itu akan seram, bakal dibentak-bentak atau dimarahi oleh senior dan pembina. Tapi ternyata anggapan itu salah besar. Kegiatan di sini sangat seru, mendidik, dan dilakukan dengan cara yang asyik,” ungkap Keanu dengan wajah berseri.
Kesan dari Keanu mewakili perasaan banyak peserta lainnya. LDKS OSIS SMK-IT As Syifa Generasi ke-2 ini berhasil membuktikan bahwa kedisiplinan dan kepemimpinan tidak harus dibangun dengan intimidasi, melainkan dengan kolaborasi, kepercayaan, dan kebahagiaan.
Dengan berakhirnya kegiatan di Grafika Cikole, para pengurus OSIS kini pulang membawa bekal berharga: bukan hanya wajah yang bersih dari bedak, tapi jiwa yang lebih tangguh, solidaritas yang lebih kuat, dan kesiapan untuk memimpin sekolah dengan semangat yang baru.
Leave a Comment